Berbagi Pengetahuan

Bab 3 INVENTARISASI

Modul PPT

PENDEKATAN SENTRA DAN LINGKARAN/

BEYOND CENTRES AND CIRCLE TIME (BCCT)

 DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

I. Pendahuluan

 

A. Deskripsi

Penyelenggaran pendidikan untuk anak usia dini (PAUD) memerlukan metode pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak dan mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak. Ada banyak pendekatan dalam pendidikan anak usia dini, salah satu pendekatan tersebut dengan metode pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida, USA dikenal dengan nama metode “Beyond Centers and Circle Time” (BCCT) atau pendekatan “Sentra dan Lingkaran”.

Dalam pendekatan BCCT proses pembelajaran diatur dalam bentuk kegiatan yang ditujukan agar anak belajar dengan mengalami bukan hanya sekedar mengetahui ilmu yang ditransfer oleh guru. Pembelajaran berpusat pada anak dan peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan evaluator. Sehingga otak anak dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja.

 

B. Standar Kompetensi

Setelah selesai mempelajari modul ini para peserta pelatihan memahami konsep dasar pendekatan “Sentra dan Lingkaran” atau Beyond Centers and Circle Time” (BCCT).


C. Kompetensi Dasar

Setelah selesai mempelajari modul ini para peserta pelatihan diharapkan mampu menjelaskan dan menerapkan pendekatan “Sentra dan Lingkaran”  atau Beyond Centers and Circle Time” (BCCT).

  1. D.   Petunjuk Penggunaan Modul

Agar lebih efektif dan efisien dalam mempelajari modul ini hendaknya memperhatikan petunjuk belajar berikut:

  1. Baca lah seluruh isi modul secara runtut, cermat dan teliti
  2. Catatlah atau tandailah hal-hal yang Anda anggap penting
  3. Apabila ada yang kurang jelas, coba diskusikan dengan teman atau tanyakan kepada fasilitator atau sumber lain yang sesuai

 

 

II. Materi Kegiatan Pembelajaran

 

  1. A.   Prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
  1. Berorientasi pada kebutuhan anak. Kegiatan pembelajaran harus  selalu ditujukan pada kebutuhan anak secara individu.
  2. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain. Dengan bermain yang menyenangkan akan merangsang anak untuk  melakukan eksplorasi dengan menggunakan benda-benda disekitarnya, sehingga dapat menemukan pengetahuan dari benda-benda yang dimainkannya.
  3. Merangsang munculnya kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi tercermin melalui kegiatan yang membuat anak tertarik, fokus, serius dan konsentrasi.
  4. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar.  Lingkungan harus diciptakan menjadi lingkungan yang menarik dan menyenangkan bagi anak selama mereka bermain.
  5. Mengembangkan  kecakapan hidup. Kecakapan hidup diarahkan untuk membantu anak menjadi mandiri, disiplin, mampu bersosialisasi, dan memiliki keterampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak.
  6. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.
  7. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang, sesuai dengan tahap perkembangan anak.
  8. Rangsangan pendidikan bersifat menyeluruh, mencakup semua aspek perkembangan. Tugas pendidik adalah sebagai fasilitator untuk memfasilitasi agar semua aspek perkembangan anak berkembang optimal.
  1. B.    Prinsip Perkembangan Anak
  2. Anak akan belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta merasa aman dan nyaman dalam lingkungannya.
  3. Anak belajar terus menerus, dimulai dari membangun pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi lingkungan, menemukan kembali sesuatu konsep, hingga mampu membuat sesuatu yang berharga.
  4. Anak belajar melalui interaksi sosial, baik dengan orang dewasa dengan teman sebaya, maupun dengan benda dan alat yang ada di lingkungannya.
  5. Minat dan ketekunan anak akan memotivasi belajar anak.
  6. Perkembangan dan gaya belajar anak harus dipertimbangkan sebagai perbedaan individu.
  7. Anak belajar dari hal-hal yang sederhana sampai yang komplek, dari yang konkrit ke abstrak, dari yang berupa gerakan ke bahasa verbal, dan dari diri sendiri ke interaksi dengan orang lain.

Sementara menurut Abraham Maslow, agar anak bisa fokus bermain “kebutuhan dasar anak yang dipenuhi “

  1. Bebas dari rasa lapar dan haus
  2. Bebas dari rasa takut dan bahaya
  3. Merasa diterima, dihargai dan dicintai oleh lingkungannya
  4. Kebutuhan mengekspresikan diri sebagai individu yang khas/unik
  5. Kebutuhan kebebasan bergerak

Untuk memenuhi kebutuhan dasar anak sesuai dengan prinsip pendidikan anak usia dini diperlukan pendekatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Pendekatan Sentra dan Lingkaran memberi peluang untuk mengembangkan kecerdasan anak secara optimal dan anak distimulasi  untuk menjadi anak yang aktif, kreatif dan berani. Disamping itu pendekatan sentra dan lingkaran memiliki prosedur operasional yangbakusehingga mudah diikuti. Pendekatan Sentra dan Lingkaran juga sangat mengakomodasi keunggulan dan budaya lokal, sehingga dinilai tepat untuk kondisiIndonesiayang beragam.

 

  1. C.   Pengertian  MetodeBeyond Center and Circle Time

Suatu metode atau pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Dikembangkan berdasarkan hasil kajian teoritik dan pengalaman empirik. Merupakan pengembangan dari metode Montessori, HighScope, dan Reggio Emilio. Dikembangkan olehCreativeCenterfor Childhood Research and Training (CCCRT)Florida,USA. Dilaksanakan di Creative Pre School Florida, USA selama lebih dari 25 tahun, baik utk anak normal maupun utk anak dg kebutuhan khusus.

  1. D.   Keunggulan Metode Sentra dan Lingkaran atau BCCT

Metode ini ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak. Agar kecerdasannya dapat berkembang secara optimal, maka otak anak perlu dirangsang untuk terus berfikir secara  aktif dgn menggali pengalamannya sendiri (bukan sekedar mencontoh atau menghafal).  Metode ini memandang bermain sebagai wahana yang paling tepat dan satu-satunya wahana pembelajaran anak, karena disamping menyenangkan, bermain dalam setting pendidikan dapat menjadi wahana untuk berfikir aktif, kreatif.

 

  1. E.    Ciri-ciri dari MetodeBeyond Center and Circle Time
  2. Program kegiatan sesuai dengan tahapan usia, tahap kemampuan individu anak, dan nilai budaya di lingkungan hidup anak
  3. Anak membangun pengetahuan sendiri dengan dukungan pendidik melalui rangsangan optimal terhadap seluruh indera anak.
  1. Berpusat pada anak:

2.  Bermain :

a. Aktivitas anak dilakukan melalui 3 jenis main: sensorimotor, main peran, dan main pembangunan

Main Sensorimotor

Kegiatan yang menggunakan gerakan otot kasar dan halus serta mengekspresikan seluruh indra tubuh untuk mendapatkan rasa dari fungsi indra. Anak usia dini belajar melalui panca indranya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya.
Main sensorimotor penting untuk mempertebal sambungan antar neuron.

Main Peran

Kemampuan untuk memisahkan pikiran dari kegiatan dan benda. Kemampuan menahan dorongan hati dan menyusun tindakan yang sendiri dengan sengaja dan fleksibel. (Vygotsky) Melalui pengalaman main peran, anak diberi kesempatan untuk menciptakan kembali kejadian kehidupan nyata dan memerankannya secara simbolik. (Main peran Makro dan Mikro)
Main Pembangunan

Main pembangunan dibahas oleh Jean Piaget (1962), Sara Smilansky (1968), dan Charles dan Mary Wolfgang (1992).  Piaget menyatakan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan keterampilan yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari.  Dr. Charles Wolfgang, dalam bukunya yang berjudul School for Young Children, menjelaskan suatu tahap yang berkesinambungan dari bahan yang paling cair atau messy seperti air, ke yang paling terstruktur seperti puzzle. Cat, krayon, spidol, play dough, air, pasir dianggap sebagai bahan main pembangunan sifat cair atau bahan alam.  Balok unit, Lego™, balok berongga, Bristle Blocks™, dan bahan lainnya dengan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengarahkan bagaimana anak meletakkan bahan-bahan tersebut  bersama menjadi sebuah karya, dianggap sebagai bahan main pembangunan yang terstruktur. Anak dapat mengekspresikan dirinya dalam bahan-bahan ini mengembangkan dari main proses atau main sensorimotor yang kami lihat pada anak usia di bawah tiga tahun ke tahap main simbolik yang kami lihat pada anak usia tiga sampai dengan enam tahun yang dapat terlibat dalam hubungan kerjasama dengan anak lain dan menciptakan karya nyata.

                                                                        

b. Kegiatan main dilakukan dengan inisiatif anak, kebebasan memilih, eksplorasi serta dukungan pendidik

  1. 3.    Sentra:
  2. sebagai pusat pengembangan potensi anak
  3. Setiap sentra mendukung 3 jenis main (main sensori motor, main peran, main pembangunan)
  4. APE=media untuk stimulasi perkembangan anak, harus memenuhi kebutuhan berkembang anak
  5. Jumlah Sentra disesuaikan dg kemampuan pengelola dan kebutuhan kelompok.
  6. Sentra dapat digunakan secara bergilir

4. Memberikan 4 jenis pijakan dimana pijakan sebelum dan setelah anak bermain dilakukan dalam posisi duduk melingkar (circle time).

–      Pijakan Lingkungan

–      Pijakan Sebelum Main

–      Pijakan Selama Main

–      Pijakan Sesudah Main

 

  1. a.    Pijakan Lingkungan

1)      Mengelola awal lingkungan main dengan bahan-bahan yang cukup (tiga tempat main untuk setiap anak)

2)      Merencanakan untuk intensitas dan densitas pengalaman

3)      Memiliki berbagai bahan yang mendukung tiga jenis main
Sensorimotor, pembangunan dan main peran Memiliki berbagai bahan yang mendukung pengalaman keaksaraan

4)      Menata kesempatan main untuk mendukung hubungan sosial yang positif

  1. Pijakan Pengalaman Sebelum Main

1)      Membaca buku yang berkaitan dengan pengalaman atau mengundangnarasumber

2)      Menggabungkan kosakata baru dan menunjukkan konsep yang mendukung standar kinerja

3)      Memberikan gagasan bagaimana menggunakan bahan-bahan

4)      Mendiskusikan aturan dan harapan untuk pengalaman main

5)      Menjelaskan rangkaian waktu main

6)      Mengelola anak untuk keberhasilan hubungan sosial

7)      Merancang dan menerapkan urutan transisi main

  1. c.     Pijakan Pengalaman Main Setiap Anak

1)      Memberikan anak waktu untuk mengelola dan meneliti pengalaman main mereka

2)      Mencontohkan komunikasi yang tepat

3)      Memperkuat dan memperluas bahasa anak

4)      Meningkatkan kesempatan sosialisasi melalui dukungan hubungan teman sebaya

5)      Mengamati dan mendokumentasikan perkembangan dan kemajuan main anak

  1. Pijakan Pengalaman Setelah Main

–      Mendukung anak untuk mengingat kembali pengalaman mainnya dan saling menceritakan pengalaman mainnya.

–      Menggunakan waktu membereskan sebagai pengalaman belajar positif melalui pengelompokan, urutan, dan penataan lingkungan main secara tepat.

5. Pendidik sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator;

–      Pendidik sebagai fasilitator yang memberi pijakan (scaffolding) pada anak

–      Pendidik memberi dukungan agar anak dapat mencapai tahap perkembangan yang lebih tinggi

6. Perencanaan menggunakan pendekatan holistik kurikulum dan diterapkan secara berkelanjutan (continuing of learning)

7. Anak merasa nyaman, aman, tidak dipaksa dan selalu berpeluang untuk mengambil keputusan sendiri:

–      Perkembangan kognitif dibangun dengan dasar stabilitas sosial-emosional dan kenyamanan. Hubungan yang hangat antara anak dan guru, guru dengan guru, dan guru dengan orang tua sebagai pengkondisian perkembangan otak anak secara maksimal

–      Pembentukan perilaku dibangun melalui pembiasaan dengan modeling dari orang dewasa di lingkungannya

–      Pengetahuan didapat anak melalui interaksi dengan guru, teman, alat main dan lingkungannya (lingkungan main)

 

  1. E.    Implementasi Ilmu Pengetahuan Dalam Kegiatan Main di Sentra

Dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini  yang menggunakan pendekatan sentra dan lingkaran atau bcct bisa untuk implementasi ilmu pengetahuan. Adapun macam-macam sentra yang bisa diterapkan sebagai berikut:

–      sentra bahan alam

–      sentra main peran makro dan mikro

–      sentra balok

–      sentra persiapan

–      sentra iman dan taqwa

–      sentra seni dan kreatifitas

–      sentra musik dan budaya

 

Sentra Bahan Alam

Tempat bermain sambil belajar untuk mengembangkan pengalaman sensori motor dalam rangka menguatkan tiga jari untuk persiapan menulis, sekaligus pengenalan sains untuk anak.

Efek yang diharapkan:

Anak dapat terstimulasi aspek motorik halus secara optimal, dan mengenal sains sejak dini.


Sentra Main Peran Mikro/Makro

Tempat bermain sambil belajar, dimana anak dapat mengembangkan daya imajinasi dan mengekspresikan perasaan saat ini, kemarin, dan yang akan datang. Penekanan sentra ini terletak pada alur cerita sehingga anak terbiasa untuk berfikir secara sistimatis.

Efek yang diharapkan:

Anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman dan lingkungan sekitar dan mengembangkan kemampuan berbahasa secara optimal
Sentra Balok

Tempat bermain sambil belajar untuk mempresentasikan ide ke dalam bentuk nyata (bangunan). Di sentra ini anak dapat memainkan balok dengan perbandingan 1 anak ± 100 balok plus assesoris. Penekanan sentra ini pada start and finish, di mana anak mengambil balok sesuai kebutuhan dan mengembalikan dengan mengklasifikasi berdasarkan bentuk balok

Efek yang diharapkan:

Anak dapat berfikir tipologi, mengenal ruang dan bentuk sehingga dapat mengembangkan kecerdasan visual spasial secara optimal dan anak dapat mengenal bentuk – bentuk geometri yang sangat berguna untuk pengetahuan dasar matematika
Sentra Persiapan

Tempat bermain sambil belajar untuk mengembangkan pengalaman keaksaraan. Di sentra ini anak difasilitasi dengan permainan yang dapat mendukung pengalaman baca, tulis, hitung dengan cara yang menyenangkan dan anak dapat memilih kegiatan yang diminati.

Efek yang diharapkan:

Anak dapat berpikir teratur, senang membaca, menulis dan menghitung.

Sentra Iman Dan Taqwa

Tempat bermain sambil belajar untuk mengembangkan kecerdasan jamak dimana kegiatan main lebih menitik beratkan pada kegiatan keagamaan. Di sentra ini anak difasilitasi dengan kegiatan bermain yang memfokuskan pada pembiasaan beribadah dan mengenal huruf hijaiyyah dengan cara bermain sambil belajar.

Efek yang diharapkan:

Tertanamnya perilaku akhlakul karimah, ikhlas, sabar dan senang menjalankan perintah agama.
Sentra Seni Dan Kreatifitas

Tempat bermain sambil belajar yang menitik beratkan pada kemampuan anak dalam berkreasi. Kegiatan di sentra ini dilaksanakan dalam bentuk proyek, dimana anak diajak untuk menciptakan kreasi tertentu yang akan menghasilkan sebuah karya.

Efek yang diharapkan:

Anak dapat berfikir secara kreatif
Sentra musik dan budaya

Tempat bermain sambil belajar untuk mengenalkan beragam musik terutama musik tradisional, dan permainan tradisional dari berbagai daerah.

Efek yang diharapkan dari sentra ini :

anak dapat mengenal nada, birama dan ritme disamping dapat mengenal keragaman permainan tradisional yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan

 

 

  1. F.     Bagaimana mengelola Metode Sentra dan Lingkaran
  2. 1.    Pijakan Lingkungan  Main

Masing-masing pendidik bertanggungjawab mengatur lingkungan main untuk kelompok anak yang menjadi tanggungjawabnya.  Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Menggelar tikar/karpet untuk kegiatan anak.
  2. Menyiapkan dan menata bahan dan alat main sesuai dengan rencana pembelajaran dan jadwal kegiatan hari itu.
  3. Penataan alat main harus mencerminkan rencana pembelajaran yang sudah dibuat.

Penataan lingkungan disiapkan sebelum anak datang

  1. 2.    Penyambutan Kedatangan Anak

Pada saat anak datang, agar ada seorang Pendidik  menyambut kedatangan anak.  Anak-anak langsung diarahkan untuk bermain bebas di tempat yang telah disiapkan atau bermain lainnya bersama teman-teman lainnya.  Orangtua dipersilahkan menunggu di luar atau di tempat yang telah disediakan.

Menyambut kedatangan anak

akan membangun kedekatan anak dengan pendidik

  1. 3.    Main Pembukaan dan Ikrar Bersama

Pendidik mengajak seluruh anak untuk membentuk lingkaran besar dengan bergandeng tangan, lalu menyebutkan kegiatan pembuka yang akan dilakukan. Kegiatan pembuka bisa berupa permainan tradisional, gerak dan musik, senam, atau main gerakan kasar yang disesuaikan dengan tema dan subtema hari itu.  Misalnya, jika temanya aku dan subtemanya binatang kesayanganku, maka main pembukaannya dapat menirukan gerakan kelinci seperti melompat dan berlari. Satu orang pendidik memimpin dan pendidik lainnya jadi peserta bersama anak (mencontohkan).  Agar tidak bosan, sebaiknya permainnannya berganti-ganti.

Selesai main gerakan kasar, dilanjutkan dengan pembacaan ikrar Pos PAUD. Pendidik dapat meminta kesediaan anak untuk meminpin pembacaan ikrar.  Jika anak belum siap, pembacaan ikrar dipimpin oleh pendidik.

Kegiatan main pembukaan berlangsung  sekitar 15 menit

 

 

 


Permainan gerakan kasar bersama

dapatmengembangkan motorik dan sosial anak

 

 

  1. 4.    Transisi Menuju Kelompok (10 menit )

Setelah selesai kegiatan main pembukaan, bersama pendidik anak-anak diajak antri untuk bersih-bersih diri (cuci tangan, cuci muka, cuci kaki, dan buang air kecil) dan minum secara teratur.

 

Saat pembiasaan kebersihan diri, ajarkan antri dan berdoa

 

Banyak minum akan  menyegarkan otak dan tubuh anak

 

  1. 5.    Kegiatan di Sentra
  • Pijakan Sebelum Main (15 menit )

a. Pendidik duduk bersama anak dalam posisi melingkar. Pendidik memberi salam pada anak-anak, menanyakan kabar anak-anak.

  1. Pendidik meminta anak-anak untuk memperhatikan siapa saja yang tidak hadir hari ini (mengabsen).
  2. Berdoa bersama, mintalah anak secara bergilir siapa yang akan memimpin doa hari ini.
  3. Pendidik menyampaikan tema hari ini dan dikaitkan dengan kehidupan anak.
  4. Pendidik membacakan buku yang terkait dengan tema. Setelah membaca selesai, pendidik menanyakan kembali isi cerita.
  5. Pendidik mengaitkan isi cerita dengan kegiatan main yang akan dilakukan anak.
  6. Pendidik mengenalkan semua tempat dan alat main yang sudah disiapkan.
  7. Dalam memberi pijakan, pendidik harus mengaitkan kemampuan apa yang diharapkan muncul pada anak, sesuai dengan rencana belajar yang sudah disusun.
  8. Pendidik menyampaikan bagaimana aturan main (digali dari anak), memilih teman main, memilih mainan, cara menggunakan alat-alat, kapan memulai dan mengakhiri main, serta merapikan kembali alat yang sudah dimainkan.
  9. Setelah anak siap untuk main, pendidik mempersilakan anak untuk mulai bermain dengan cara menggilir kesempatan pada anak berdasarkan warna baju, usia anak, huruf depan nama anak, atau cara lainnya agar lebih teratur.

Pijakan sebelum main menghantarkan anak untuk

bermain sesuai dengan harapan pendidik

  • Pijakan Selama Main ( 60 menit )
  1. Beri anak waktu yang cukup untuk bermain, agar gagasan main tuntas dilakukan.
  2. Saat anak asyik bermain, pendidik berkeliling untuk memantau kegiatan anak.
  3. Memberi contoh cara main pada anak yang belum bisa menggunakan bahan/alat.
  4. Memberi dukungan berupa pernyataan positif atau pujian pada pekerjaan yang dilakukan anak.
  5. Memancing gagasan anak dengan pertanyaan terbuka untuk memperluas cara main anak.
  6. Memberikan bantuan pada anak yang membutuhkan.
  7. Mendorong anak untuk mencoba dengan cara lain, sehingga anak memiliki pengalaman main yang kaya (densitas).
  8. Mencatat kegiatan yang dilakukan anak (jenis main dan tahapan perkembangan yang dicapai).
  9. Mengumpulkan hasil kerja anak, dengan mencatat nama dan tanggalnya di lembar kerja anak.
  10. Bila waktu tinggal 5 menit, beritahu anak-anak untuk bersiap-siap menyelesaikan kegiatan mainnya.

Pijakan pada saat anak bermain akan menambah dan memperluas gagasan main anak

  • Pijakan Setelah Main ( 30 menit )
  1. Bila waktu main habis, pendidik memberitahukan saatnya membereskan mainan dengan menempatkan alat main pada tempatnya.
  2. Saat beres-beres dapat dilakukan sambil bernyanyi lagu beres-beres atau lagu lainnya.
  3. Bila anak belum terbiasa untuk membereskan, pendidik bisa membuat permainan yang menarik agar anak ikut membereskan.
  4. Pendidik menyiapkan tempat untuk setiap jenis alat, sehingga anak dapat mengelompokkan alat main sesuai dengan tempatnya.

Keterlibatan anak dalam beres-beres akan meningkatkan rasa tanggungjawab pada anak yang tak ternilai harganya

  1. Setelah selesai beres-beres, persilahkan anak untuk membersihkan diri, ganti pakaian bila basah/kotor, dan minum dengan antri.
  2. Bila anak sudah rapi, mereka diminta duduk melingkar bersama pendidik.
  3. Setelah semua anak sudah duduk dalam lingkaran pendidik bertanya pada setiap anak secara bergilir tentang kegiatan main yang telah dilakukan. Kegiatan menanyakan kembali (recalling) melatih daya ingat anak, menambah kosa kata, dan berbicara secara runtut sesuai pengalaman mainnya.
  4. Jika ada anak yang pendiam atau mengalami hambatan bicara agar banyak diberi kesempatan untuk berbicara dan ditanya.

 

Saat recolling anak-anak nampak aktif ingin bicara

 

  1. 6.    Makan Bekal Bersama
  2. Makan bekal bersama merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Saat makan bekal bersama, anak-anak tetap dalam bimbingan pendidik (bukan waktu istirahat).
  1. Anak-anak boleh membawa makanan ringan dari rumah, tetapi bukan makanan jajanan. Sangat dianjurkan agar bekal yang dibawa adalah nasi beserta lauknya.
  2. Sebaiknya minimal sebulan sekali disediakan makanan untuk perbaikan gizi.  Orangtua dapat dilibatkan secara bergilir untuk menyiapkan makanan ini dengan menu yang sudah disepakati.
  3. Sebelum makan bersama, pendidik mengecek apakah ada anak yang tidak membawa makanan. Jika ada, tanyakan siapa yang mau memberi makan/sodakoh pada temannya (mengenalkan konsep berbagi).
  4. Beritahukan jenis makanan yang sehat dan tidak.
  5. Biasakan tatacara makan yang baik (adab makan).
  6. Libatkan anak untuk membereskan bekas makanan dan membuang bungkus ke tempat sampah.

Membereskan alat makan setelah digunakan membangun kemampuan klasifikasi bentuk dan kegunaan benda

  1. 7.    Kegiatan Penutup ( 15 menit )
  2. Setelah selesai makan bekal bersama, semua anak berkumpul kembali dengan membentuk lingkaran besar.
  3. Pendidik dapat mengajak anak menyanyi, main tebak-tebakan, menari, atau membaca puisi.
  4. Pendidik menyampaikan rencana kegiatan minggu depan, dan menganjurkan anak untuk melanjutkan bermain yang sama di rumah.
  5. Pendidik meminta anak secara bergilir untuk memimpin do’a penutup.

Kegiatan diakhiri dengan berdoa bersama

  1. Untuk menghindari berebut saat pulang, pendidik menggilir kesempatan, misalnya dengan cara tebak-tebakan, berdasarkan warna baju, usia, warna rambut, atau cara lainnya.
  1. G.   Evaluasi Perkembangan Anak

Pencatatan perkembangan anak dilakukan setiap pertemuan berdasarkan aspek perkembangan yang tertuang dalam Menu Pembelajaran Generik, yang mencakup perkembangan moral dan nilai-nilai agama, motorik kasar, motorik halus, bahasa, kognitif, social-emosional, dan seni.

Pencatatan perkembangan anak dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan buku catatan perkembangan anak. Informasi perkembangan anak dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap:

  1. Hasil kegiatan/karya anak.
  2. Kemampuan gerakan kasar dan halus anak.
  3. Kemampuan bahasa dan kosa kata anak melalui apa yang diucapkan.
  4. Kemampuan kogtitif anak.
  5. Kemampuan sosial dan emosional anak melalui hubungan anak dengan teman lainnya, ekspresi anak terhadap suatu kejadian.
  6. Apresiasi anak terhadap kegiatan seni.

Selain mencatat perkembangan yang dicapai dengan kalimat atau kata-kata, kader juga dapat mencatat dengan menggunakan daftar cek perkembangan anak.  Hasil pencatatan ini baik yang berbentuk narasi maupun daftar cek dijadikan bahan evaluasi dan laporan perkembangan anak kepada orang tua masing-masing.

  1. 1.    Tata Cara Evaluasi Perkembangan Anak

Prinsip

  1. Mengetahui proses dan  hasil perkembangan anak.
  2. Berkesinambungan.
  3. Objektif dalam memperhatikan perbedaan individu.
  4. Bukan sebagai alat untuk menghukum atau memojokkan anak.
  5. Informasi yang disampaikan berguna untuk mendukung perkembangan anak selanjutnya.

 

Cara

  1. Mengamati/observasi.
  2. Mencatat tingkah laku khusus yang ditunjukkan anak dalam buku anekdot (anecdotal record).
  3. Mengumpulkan hasil kerja anak (portofolio).
  1. 2.    Tindak Lanjut

Hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan dan pengayaan anak didik. Selain hal tersebut orang tua/pengasuh dan penentu kebijakan dapat merancang perbaikan metode mengasuh anak sesuai kebutuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s