pendidikan Karakter

Isu Gender dalam Penyusunan Rencana KerjaSekolah
DIREKTORAT PENDIDIKAN MASYARAKATDIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
2010

LATARBELAKANG
Perhatikan hal yang berkaitan dengan millennium development goals (MDGs) dan data lama-sekolah sebagian penduduk Indonesia seperti yang dipaparkan dio bawah ini.
Goal 2: mencapai pendidikan dasar bagi semua dengan tujuan bahwa pada tahun 2015 semua anak baik laki-laki maupun perempuan dapat mengenyam pendidikan dasar
Goal 3: mempromosikan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dengan tujuan untuk menghapuskan segala bentuk disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah paling lambat pada tahun 2015.
Rata-rata Lama Sekolah (dalamtahun)
Penduduk Berusia 15 Tahun Keatas Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Tahun 2008

 Capaian pendidikan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, baik di perkotaan maupun di perdesaan

Dua hal ini merupakan bagian penting dari tumbuh kembang insiatif pemerintah Indonesia untuk mengagendakan secara nasional upaya “Pengarusutamaan Gender” (PUG)

APA KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER DALAM KELUARGA?
Suatu kondisi yang setara dan seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh peluang/ kesempatan, partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan, baik di dalam maupun di luar rumah tangga.

MENGAPA PERLU MENYELENGGARAKAN PUG ?
• Memperoleh akses yang sama kepada sumber daya pembangunan;
• Berpartisipasi yang sama dalam proses pembangunan, termasuk proses pengambilan keputusan;
• Memiliki kontrol yang sama atas sumber daya pembangunan; dan
• Memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembangunan.

KOMITMEN NASIONAL TENTANG PUG
• Untuk melaksanakan PUG ini, pada tahun 2000 telah dikeluarkan Instruksi Presiden No.9 Tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan Nasional. Melalui instruksi ini Presiden Republik Indonesia telah mengintruksikan kepada seluruh Kementerian/Lembaga serta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk melaksanakan PUG kedalam perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program yang berperspektif gender diseluruh aspek pembangunan
• Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. Dalam UU tersebut peningkatan kesetaraan gender merupakan salah satu tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Ke-2 (2010-2014)
• Permendagri No 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di daerah
• Permendiknas No.84 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan yang memberi acuan pelaksanaan PUG bidang pendidikan mulai tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota sampai dengan satuan pendidikan.

PUG DALAM INSTRUKSI PRESIDEN ( Inpres No.9 Tahun 2000)
Suatu strategi untukmencapaikesetaraandankeadilan gender (KKG) melaluikebijakandan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki kedalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan sektor pembangunan

PUG DALAM PERATURANMENTERI PENDIDIKAN
(PERMEN DIKNAS NO. 84, THN 2008 TENTANGPEDOMAN PELAKSANAAN PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN)
TujuanPengarusutamaan Gender
• memberikan acuan bagi para pemegang kebijakan dan pelaksana pendidikan dalam menyusun strategi pengintegrasian gender yang dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, penganggaran,
• pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan bidang pendidikan;
• mewujudkan perencanaan berperspektif gender melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan laki-Iaki dan perempuan;
• mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender pada satuan pendidikan dan masyarakat;
• mewujudkan pengelolaan anggaran pendidikan yang responsif gender;
• meningkatkan kesetaraan dan keadilan dalam kedudukan, peranan, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai insan dan sumber daya pembangunan.

INTEGRASI KEADILAN DAN KESETARAAN GENDER DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (SBM)
Kesetaraan dan keadilan gender dapat diintegrasikan melalui tugas dan fungsi (tupoksi) sekolah dalam menerapkan MBS yang meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
• pengelolaan proses belajar mengajar
• perencanaan, evaluasi dan supervisi
• pengelolaan kurikulum
• pengelolaan ketenagaan
• pengelolaan fasilitas
• pengelolaan keuangan
• pelayanan siswa
• peran serta masyarakat
• pengelolaan budaya sekolah

Langkah Integrasi Keadilan dan Kesetaraan Gender dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) :
• Merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaransekolah dengan memasukkan kesetaraan gender sebagai bagian integral dan eksplisit
• Mengidentifikasi fungsi-fungsi sekolah yang menggunakan prinsip MBS dengan mengintegrasikan masalah gender yang diperlukan untuk mencapai sasaran
• Melakukan analisis SWOT untuk mengetahui potensi pengembangan kesetaraan gender dalam perencanaan program dan pengembangan strategis untuk mencapai sasaran
• Mengidentifikasi langkah-langkah pemecahan masalah terkait dengan hambatan kesetaraan gender di sekolah akibat konstruksisosial budaya
• Menyusun rencanadan program peningkatan mutu yang responsif terhadap perbedaan gender sebagai konstruksi sosial dengan memperhatikan kebutuhan gender praktis dan gender strategis
• Melakukan monitoring dan evaluasi dengan menggunakan indikator kesetaraan gender dan indikator kebijakan responsif gender
• Merumuskansasaran mutu baru melaui reformulasi manajemen sekolah yang bias atau netral gender menuju manajemen responsif gender
Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang responsif Gender :
• Memiliki visi dan misi yang berperspektif gender
• Kepala sekolahmemiliki karakteristik yang profesional dan sensitif gender
• Karakteristik guru yang professional dan sensitif gender
• Kurikulum yang seimbang dan responsif gender
• Lingkungan sekolah yang sensitif gender
• Lingkungan fisik dan pembelajaran yang ramah terhadap perbedaan gender
• Manajemen sekolah yang responsif gender
• Ada upaya mewujudkan komite sekolah responsif gender

Identifikasi Isu-isu Gender di Sekolah / PerguruanTinggi :
1. Aksesterhadap semua program/kegiatan
2. Partisipasidalam pengambilan kebijakan
3. Kontrolterhadap sumber-sumber daya
4. Manfaatdari program/kegiatan yang dilaksanakan

TUJUAN PENDIDIKAN SEKOLAH/PT YANG RESPONSIF GENDER (PSBG)
Apa Tujuan Sekolah /PerguruanTinggiResponsifGender (PSBG)?
Mewujudkan kesempatan pendidikan yang adil dan setara adil pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, mendorong peningkatan mutu dan efisiensi melalui pemberdayaan potensi perempuan dan laki-laki secara optimal, dan memperkecil ketimpangan gender terutama pada jurusan/program studi dan bidang kejuruan
MengapaPendidikanSekolah /PerguruanTinggiResponsif Gender (PSBG)?
• Kebijakan sekolah cenderung netral (beberapa bias) gender, yang berdampak terhadap tingkat pemerolehan manfaat yang berbeda antara laki-laki dan perempuan (laki-laki biasanya mendapatkan manfaat lebih tinggi dibandingkan perempuan).
• Masih terdapat bahan ajar yang mengandung stereotipe gender yang menguatkan prilaku bias gender di masyarakat.
• Perilaku guru yang belum sensitif gender, yang berdampak pada bentuk-bentuk prilaku yang bias gender.
• Penataan sarana dan prasarana di sekolah /Perguruan Tinggi yang belum memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan dan laki-laki.
• Keterwakilan anggota masyarakat dalam komite sekolah dan dewan pendidikan masih didominasi oleh laki-laki.

APA RUANG LINGKUP PENDIDIKAN SEKOLAH RESPONSIF GENDER (PSBG)?
Melakukan pengarusutamaan gender pada aspek:
1. ManajemenSekolah, yang meliputi; Organisasi dan budaya sekolah, Sarana dan Prasarana, Administrasi Sekolah, Kebijakan dan Pengelolaan Sekolah
2. Proses Pembelajaran; perencanaan pembelajaran, penyusunan bahan ajar, prilaku guru, metode/pendekatan dalam pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran
3. Peran serta masyarakat dalam pendidikan

SIAPA SASARAN PENDIDIKAN SEKOLAH /PT RESPONSIF GENDER ?
1. Manajer Sekolah
2. Tenaga Pendidikdan Kependidikan
3. Stakeholders pendidikan (Komite Sekolah, Penulis Bahan Ajar, Penerbit, Orangtua)
4. Peserta didik

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN SEKOLAH/ PT RESPONSIF GENDER ?
1. Manajemen Sekolah
2. Pembelajaran
3. Peran Serta Masyarakat
Indikator Sekolah /Perguruan Tinggi Responsif Gender
Aspek Manajemen:
1. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan dan peran yang yang sama atau setara dalam mengendalikan sistem pendidikan di sekolah;
2. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan dan peran yang sama atau setara dalam membina, mengarahkan dan melaksanakan pelayanan pendidikan di sekolah dan dapat memperoleh manfaat yang sama dari kesempatan dan peran tersebut;
3. Sekolah menghargai adanya karakter kerja, kesempatan dan tugas kultur yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan tugas kedinasan;
4. Data dan informasi yang digunakan oleh guru dan kepalasekolah terpilah antara laki-laki dan perempuan, dan digunakan untuk analisis pendidikan yang berpihak pada laki-laki dan perempuan secara seimbang;
5. Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk menempati jabatan struktural dan/atau jabatan fungsional di sekolah, melakukan pengendalian terhadap program serta memperoleh manfaat yang sama;
6. Sekolah memilikisarana-parasarana yang dapat diakses oleh serta memenuhi kebutuhan khusus laki-laki dan perempuan, seperti: kamar mandi, lapangan olahraga, alat-alat olahraga, pakaian olah raga, kamar ganti, bangsa, dsb,

MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH RESPONSIF GENDER

Isu gender pada Budaya Sekolah
1. Kesenjangan gender dalam kaitan dengan partisipasi murid yang dapat ditunjukkan dengan proporsi jumlah murid di sekolah yang menyebabkan jenis kelamin laki-laki menjadi kelompok yang mendominasi dibandingkan dengan murid perempuan
2. Stereotipi atau pembakuan citra dari peran-peran laki-laki maupun perempuan yang merugikan salah satu jenis kelamin.
3. Diskriminasi terhadap jenis kelamin tertentu sehingga menghalangi untuk mendapatkan hak-haknya serta melaksanakan peran-perannya di lingkungansekolah
4. Kekerasan berbasis gender, baik fisik, psikis maupun seksual, seperti memandang lebih rendah dan meminggirkan, pelecehan seksual, dan yang sejenisnya.

Upaya Menciptakan Budaya Sekolah Responsif Gender
1. Menciptakan rasa aman dan nyaman tanpa ada kekerasan fisik, psikis, seksual berbasis perbedaan jenis kelamin
2. Memberikan penghargaan dan penghormatan sesuai dengan posisi dan perannya masing-masing
3. Menghindari terjadinya diskriminasi gender baik terhadap laki-laki maupun terhadap perempuan

Standar Minimal PUG Pusat Dan Daerah
NO INDIKATOR STANDAR MINIMAL PENCAPAIAN
1 Dukungan Kebijakan/
Komitmen Adanya surat keputusan Dirjen/Gubernur/ Bupati mengenai pelaksanaan PUG bidang pendidikan
2 Kelembagaan Adanya Pokja PUG Bidang Pendidikan di pusat dan daerah
3 Focal Point Adanya 1 orang di pusat dan daerah yang mempunyai pemahaman PUG dengan baik
4 Program Adanya minimal 1 program pendidikan responsive gender
5 Pendataan Tersedianya data pendidikan terpilah menurut jenis kelamin
6 Anggaran Adanya dukungan APBD untuk program PUG
7 Alat analisis Adanya salah satu alat analisis gender yang dipahami dan dipergunakan dalam perencanaan program pendidikan

Tentang rainulhuda

sebuah sekolah informal yang terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjunjung tinggi nilai-nalai agama islam, dan menjadikan manusia indonesia yang berkarakter
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s